
Banjir lahan pertanian melanda Malang, Padang, dan Aceh di awal musim hujan. Simak langkah petani mengantisipasi genangan dan memulihkan sawah.
Awal November 2026 menjadi pekan berat bagi petani di sejumlah daerah. Banjir lahan pertanian terjadi di Jawa Timur, Sumatera Barat, hingga Aceh seiring hujan lebat yang mengguyur masa peralihan musim. Lahan padi dan kebun terendam, sebagian tanaman gagal panen, dan pemulihannya membutuhkan waktu. Artikel ini merangkum kejadian terbaru sekaligus langkah praktis untuk petani dalam menghadapi banjir lahan pertanian dan memulihkan sawah.
Banjir lahan pertanian di Malang rendam 50 hektare
Hujan deras mengguyur Kabupaten Malang sejak Senin dini hari, 2 November 2026. Banjir dan tanah longsor kemudian melanda delapan kecamatan pada Selasa, 3 November. Kecamatan terdampak meliputi Ampelgading, Bantur, Dampit, Pagelaran, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Donomulyo, dan Turen.
Dampak terberat tercatat di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading. Luapan Sungai Kedungondo merendam 58 rumah dan menggenangi sekitar 50 hektare lahan pertanian. Kerugian di desa itu melampaui Rp200 juta. Sementara itu, total kerugian bencana di sejumlah wilayah Malang mencapai miliaran rupiah.
Banjir lahan pertanian seperti ini biasanya surut dalam hitungan hari. Akan tetapi, lumpur yang tertinggal membutuhkan penanganan lanjutan.
Sementara itu, data BPBD Kabupaten Malang hingga 3 November malam mencatat tidak ada korban jiwa. Genangan di beberapa lokasi mulai surut. Namun pendataan kerusakan masih berjalan.
30,5 hektare sawah di Padang tertimbun sedimen
Di Sumatera Barat, petani Kota Padang menghadapi masalah yang lebih pelik. Banjir susulan pada September dan Oktober 2026 menimbun 30,5 hektare sawah dengan material sedimen. Ironisnya, lahan itu sempat pulih lewat rehabilitasi pascabanjir besar akhir 2025.
Dinas Pertanian Kota Padang menyiapkan rehabilitasi lanjutan. Namun pelaksanaannya menunggu perbaikan sungai dan saluran irigasi oleh Dinas PUPR. Selain itu, Pemko Padang mengusulkan rehabilitasi 34,5 hektare ke Kementerian Pertanian. Pemko Padang menargetkan usulan itu masuk alokasi 2027.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani menegaskan koordinasi terus berjalan. Oleh karena itu, rehabilitasi sungai dan intake air menjadi syarat utama. Tanpa infrastruktur yang pulih, sawah hasil rehabilitasi tetap berisiko rusak saat banjir datang lagi. Kasus Padang membuktikan banjir lahan pertanian bisa menghantam titik yang sama dua kali.
Aceh Selatan gagal panen, Tulungagung panen dini
Banjir juga melanda Trumon Raya, Kabupaten Aceh Selatan. Luapan Sungai Lae Soraya merendam ratusan rumah dan lahan pertanian. Data terbaru mencatat 756 warga terdampak dan 161 jiwa masih mengungsi di posko. Di Desa Cot Bayu, air mencapai 130 cm dan lahan pertanian gagal panen.
Sementara itu, petani bawang merah di Tulungagung, Jawa Timur, memilih jalan lain. Lahan mereka terendam banjir akibat hujan intensitas tinggi. Petani khawatir umbi bawang membusuk jika terlalu lama terendam. Akibatnya, mereka memanen lebih awal meski belum memasuki masa panen ideal.
Harga bawang merah di tingkat petani saat itu berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Panen dini menjadi langkah terpaksa demi menyelamatkan hasil yang masih layak panen. Selain itu, kualitas hasil panen berpotensi menurun karena cuaca hujan yang berlanjut.
Rangkaian banjir lahan pertanian di awal November ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan.
BMKG: awal musim hujan, hujan lebat masih mengintai
BMKG memprakirakan potensi hujan meningkat pada periode 30 Oktober hingga 5 November 2026. Sejumlah wilayah masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai kilat, petir, dan angin kencang.
Di Banten, awal musim hujan berlangsung bertahap mulai November hingga Desember 2026. BMKG menegaskan hujan lebat beberapa hari belum tentu menandakan musim hujan sudah tiba. Oleh karena itu, petani tidak boleh terburu-buru menyimpulkan perubahan musim.
Masa peralihan memang rawan bencana hidrometeorologi. Hujan lebat dalam waktu singkat berpotensi menimbulkan genangan, banjir, dan longsor. Selama masa peralihan, risiko banjir lahan pertanian tetap tinggi di daerah aliran sungai. Petani perlu memantau informasi BMKG secara berkala.
Dampak banjir lahan pertanian bagi tanaman
Banjir lahan pertanian merusak tanaman melalui beberapa cara. Pertama, genangan membuat akar kekurangan oksigen. Tanaman layu meski air tersedia melimpah. Kedua, sedimen menimbun lahan dan menutup permukaan tanah. Kondisi ini menekan pertumbuhan tunas baru.
Ketiga, kelembapan tinggi memicu serangan penyakit. Di Sleman, penyakit neck blast menyerang padi saat memasuki masa panen. Hujan yang turun di siang hari memicu penyakit ini. Petani setempat mencatat neck blast lebih banyak menyerang padi organik dibanding padi yang memakai urea.
Keempat, umbi dan buah yang terendam terlalu lama mudah membusuk. Kasus bawang merah Tulungagung menjadi contoh nyata. Oleh karena itu, kecepatan penanganan menentukan besar kecilnya kerugian.
Langkah antisipasi sebelum genangan datang
Petani bisa mengurangi risiko banjir lahan pertanian dengan beberapa langkah. Pertama, pantau prakiraan cuaca BMKG setiap hari. Informasi peringatan dini membantu menentukan waktu tanam dan panen. Kedua, perkuat saluran drainase dan pematang sawah. Air harus bisa mengalir keluar dengan cepat.
Ketiga, tunda penanaman di titik yang rawan banjir. Lebih baik menunggu kondisi stabil daripada menanam lalu gagal. Keempat, pilih varietas yang lebih tahan genangan bila tersedia. Selanjutnya, siapkan tanggul sederhana di sekitar lahan rendah.
Kelima, petakan titik rawan di lahan sendiri. Catat area yang selalu tergenang setiap musim hujan. Dengan demikian, petani bisa mengatur pola tanam yang lebih aman.
Cara memulihkan sawah pascabanjir
Setelah banjir lahan pertanian surut, segera keringkan lahan. Buang genangan yang masih tertinggal agar akar bisa bernapas kembali. Selanjutnya, angkut material sedimen yang menimbun permukaan tanah. Olah tanah ulang sebelum menanam kembali.
Bila tanaman rusak total, pertimbangkan tanam ulang. Hitung sisa waktu musim tanam agar tidak terlambat. Selain itu, gunakan pupuk secara berimbang. Hindari urea berlebihan karena bisa memicu penyakit seperti neck blast.
Waspadai lonjakan hama dan penyakit pascabanjir. Lakukan pengamatan rutin pada tanaman. Koordinasikan dengan penyuluh atau petugas POPT setempat bila serangan meluas. Di Klungkung, petugas POPT menggelar gerakan pengendalian OPT bersama petani pada 3 November. Gotong royong seperti itu mempercepat penanganan.
Kesimpulan
Banjir lahan pertanian di awal musim hujan 2026 mengingatkan satu hal penting. Antisipasi selalu lebih murah daripada pemulihan. Pantau cuaca, kuatkan drainase, dan sesuaikan kalender tanam dengan kondisi lapangan.
Pada akhirnya, bila lahan sudah terdampak, bertindaklah cepat. Keringkan, bersihkan, dan pulihkan tanah sebelum menanam kembali. Petani dan pemilik toko obat pertanian yang membutuhkan pendampingan sarana produksi bisa berdiskusi dengan tim PT Gama Agro Sejati.

Add a Comment